breaking news New

Facebook dan Twitter Sepakat Hapus Akun Individu dan Grup Teori Konspirasi

Facebook dan Twitter Sepakat Hapus Akun Individu dan Grup Teori Konspirasi Sejumlah akun atau grup yang terkait QAnon dihapus oleh Facebook

SansRadio - Jakarta, Facebook mengatakan telah menghapus beberapa grup, akun, dan halaman yang terhubung dengan Qanon, untuk pertama kalinya akibat melanggar berbagai kebijakan Facebook berupa ujaran kebencian, hoaks, pelecehan hingga misinformasi.

Raksasa media sosial itu menyampaikan pengumuman telah menghapus akun grup Official Q / QAnon yang memiliki 200 ribu anggota yang berlaku pada 4 Agustus lalu.

Selain akun QAnon, Facebook juga menghapus akun-akun yang ditautkan dengan VDARE, situs web AS yang dkenal karena memposting konten anti-imigrasi, serta akun-akun di Rusia, Iran, Maurituania, Myanmar, dan Georgia.

FBI menganggap QAnon sebagai kemungkinan sumber kekerasan. Pelanggaran berulang di grup ini juga menunjukkan bahwa admin grup tidak dapat atau tidak akan menghentikan pengguna untuk melanggar aturan.

Dilansir dari Engadget, oleh karena itu, penghapusan akun dianggap memiliki opsi yang lebih efektif daripada menghapus individu.

QAnon adalah teori konspirasi sayap kanan yang berpusat pada keyakinan tidak berdasar bahwa Trump melakukan kampanye rahasia melawan musuh di “negara dalam negara” dan cincin perdagangan seks anak-anak yang dijalankan oleh para pedofil jahat dan kanibal. Selama lebih dari dua tahun, para pengikut telah meneliti serangkaian petunjuk kusut yang konon diposting online oleh seorang pejabat tinggi pemerintah yang hanya dikenal dengan inisial sebagai “Q”.

Facebook mengklaim telah menghapus 5 Page, 20 Akun, dan 6 Grup yang terhubung ke individu yang terkait dengan jaringan QAnon yang disinyalir menyebarkan teori konspirasi.

Platform media sosial lainnya telah menindak QAnon dan para pengikutnya, bulan lalu Twitter melarang 7 ribu akun yang memiliki hubungan dengan QAnon.

Twitter juga mengatakan akan memblokir tautan terkait QAnon sebagai bentuk meminimalisir sumber-sumber berita hoaks, ujaran kebencian, konspirasi, dan yang lainnya . Media sosial ini pun juga tidak akan merekomendasikan atau mempromosikan akun yang masih terikat dengan QAnon dalam topik pencarian atau trending.