SansRadio - Jakarta, Masalah sampah makanan tidak bisa dianggap sepele karena berkontribusi pada krisis iklim. Mengatasi hal ini, 2 mahasiswi Indonesia punya ide keren yang dipamerkan dalam sebuah konsorsium di Bali.
Sampah makanan disebut penyumbang 10% emisi gas rumah kaca yang membahayakan bumi. Keberadaannya juga menjadi faktor terbesar penyebab krisis iklim.
"Sampah makanan yang membusuk di tempat pembuangan akhir merupakan sumber pencemaran dan perusakan lingkungan. Karena sampah tersebut menghasilkan bau dan gas metana yang dapat merusak lapisan ozon," ujar Direktur Riset dan Inovasi, Universitas Prasetiya Mulya, Dr. Stevanus Wisnu Wijaya di Jakarta, seperti dikutip dari rilis Universitas Prasetiya Mulya yang diterima detikfood (16/9).
Mengatasi masalah ini, Universitas Prasetiya Mulya (Prasmul) bersama sejumlah kampus di dalam dan luar negeri berkolaborasi membentuk konsorsium proyek bernama In2Food. "Konsorsium ini menjadi wadah untuk mengembangkan kolaborasi, inisiatif, dan ide dari berbagai disiplin ilmu untuk menciptakan aneka solusi bagi masalah sampah makanan," katanya.
Tahun ini, konsorsium In2Food dihadiri perwakilan Universitas Prasetiya Mulya, Universitas Katolik Parahyangan, Binus University, Universitas Pembangunan Jaya, Universitas Ma Chung, Ghent University, Tampere University, dan Hotelschool The Hague. Acara ini digelar di Bali pada Agustus 2022 dengan diikuti puluhan peserta.
Dalam konsorsium tersebut setiap kampus datang dengan keunggulan masing-masing. Universitas Prasetiya Mulya, misalnya, mengunggulkan bidang teknologi digital.
Inisiatif Manajemen Sampah Makanan Berbasis Teknologi Kecerdasan Buatan (AI)
Dalam perhelatan Food Waste to Finish (FWTF) Summer School Program ini Universitas Prasetiya Mulya mengirimkan lima mahasiswa perwakilan untuk beradu konsep dan merancang kolaborasi dengan peserta dari kampus lain.
Kelima mahasiswa itu sebelumnya telah mengikuti seleksi di internal kampus. "Setiap peserta dipilih dari latar belakang keilmuan berbeda, ada yang dari jurusan teknologi bisnis, software engineering, ekonomi bisnis, matematika terapan, bisnis teknologi pangan, dan jurusan bisnis," kata Wisnu.
Salah satu konsep usulan mahasiswa Prasmul bersama peserta dari kampus lain terpilih sebagai usulan solusi terbaik. Konsep ini bernama "Ibu Foodies" yang diusung Ni Putu Mas Swandewi dari Program Studi Software Engineering.
Menurut Swan, panggilan Swandewi, konsep ini adalah alat bantu pencegahan munculnya sampah makanan di tingkat rumah tangga.
"Aplikasi ini bisa membantu para ibu untuk mencatat dan merencanakan belanja mereka. Di dalamnya terdapat teknologi artificial intelligence (kecerdasan buatan) yang berguna untuk memindai aneka jenis sayur yang dibeli pengguna. Nantinya aplikasi mobile ini dapat menentukan usia sayur tersebut, sehingga pengguna tidak akan membiarkan bahan makanannya membusuk dan menjadi sampah," katanya.
Ide "No Action To Small" yang Menyasar Pedagang Kaki Lima