breaking news New

But now I won`t make this in vain, I don`t want to live in regret

But now I won`t make this in vain, I don`t want to live in regret But now I won`t make this in vain, I don`t want to live in regret

SansRadio - Jakarta "Kehadiran manusia sebagai entitas tertinggi menurut banyak paham dan ajaran kini menjadi sebuah pertanyaan besar. Berkah berupa akal dan logika berubah jadi pisau bermata dua, meski sama-sama difungsikan sebagai alat untuk bertahan hidup, beberapa manusia memiliki metode yang berbeda-beda dalam melangsungkan kehidupan.”
Hari ini tragedi terjadi seolah kebetulan, bencana terjadi seolah tidak terduga, dan panen hasil alam terjadi seolah keberuntungan. Manusia gagal dalam membaca hukum alam, dimana kita seharusnya mengambil dari apa yang kita beri, merawat dari apa yang disediakan alam, dan menjaga keseimbangan rantai kehidupan. Ketamakan telah membutakan logika, perasaan dan nurani. Manusia telah banyak mengacau dan cenderung memiliki keinginan untuk meraih kelebihan dibanding yang lain. Siapa saja ingin menjadi lebih kaya, lebih pintar, lebih berpengaruh, lebih berkuasa, lebih terkenal, dan seterusnya.

Imajinarium mencoba menceritakan gambaran metafora dari fenomena ini kedalam lagu berjudul Sacrifice. Melukiskan manusia yang banyak melakukan kesalahan terus menerus dan menimbulkan dampak buruk bagi keseimbangan di bumi. Pada akhirnya mereka tersadar bahwa semua yang dilakukan telah berdampak buruk terhadap Bumi. Ibu Bumi perlahan-lahan sekarat, menjadi korban utama dari keserakahan manusia dari banyaknya eksploitasi alam dan kerusakan lingkungan hidup.

Harusnya, manusia bisa memulai untuk menahan nafsu dan sadar akan pentingnya kehidupan. Melawan kehendak alam diibaratkan seperti berlari melawan laju gravitasi, sejauh apapun kita terbang tetap akan jatuh diujung waktu. Bumi memiliki siklus dalam beradaptasi melawan kerusakan. Bencana dan wabah bukanlah kejadian kebetulan, melainkan tidak lebih karena ulah dari manusia itu sendiri yang selalu digadang-gadang sebagai entitas ter-mulia dan ter-tinggi.

Poin dari lagu ini adalah ajakan untuk kita manusia menimbulkan kesadaran yang lebih terhadap bumi dan lingkungan hidup. Bahwa kita telah mengacau selama ini, saatnya kita memperbaiki ini semua dari membangun sikap lalu melakukan perubahan pada aksi nyata, tak melulu tentang hal yang besar, lakukan perubahan kecil secara utuh, teratur, dan kembangkan terus menerus. Contoh: mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, tidak melakukan pemborosan terhadap sumber daya dan banyak lagi hal yang mampu kita lakukan yang mampu berdampak baik pada keseimbangan bumi dan lingkungan hidup.

Aspek musikal dalam karya ini mengkombinasikan banyak formula, pengaruh dari berbagai referensi seperti Pink Floyd, Led Zeppelin sebagai landasan Imajinarium membuat riff, lick, dan ritmik musik Rock pada lagu ini. Synthesizer yang tidak terlalu dominan. Orkestrasi strings section dan brass section yang seringkal dilakukan composer film score seperti Hans Zimmer, John Williams, dan lain-lain untuk memperkuat suasana yang ingin ditunjukkan, karena sering menerapkannya juga dalam karya-karya mereka, Radiohead juga menjadi referensi Imajinarium pada saat meng-compose musik dalam lagu ini.

 















Lirik

“Sin, sin, sins

There have been many mistakes

Many sins and many sins

The Human and his evils

Including me

In the end who is the victim?

My mother sacrificed for my sin

A victim of our greed

Mother Earth’s sacrifice

My Mother Earth sacrificed

For the sins of humankind.”

 

Tonight I can’t hold back my tears

The night breeze slapped me come gently,
bring news of sorrow

About the covenant of penance

My Mother she is was dying

Sacrificed her life for my mistakes

 

I don’t know what to do

Too many her sacrifice for me

 

But now I won’t make this in vain

I don’t want to live in regret

 

Profil Imajinarium

Imajinarium adalah Grup Musikal yang berpusat di Kota Solo/Surakarta, beranggotakan Gandhi Asta (vocal, guitar, synth), Hangga Sakti (bass guitar), Bagas Prabowo (drums). Membentuk projek ini berlandaskan rasa ingin lebih merdeka dan leluasa dalam bermusik dan membuat musik. Dari segala aspek musik yang luas, banyak memadukan elemen-elemen musik/bunyi dalam karya-karya kami.

      Nama Imajinarium memiliki arti yaitu ruang atau tempat dimana yang terjadi di sana adalah wujud manifestasi imajinasi/pikiran/perasaan orang yang berada di dalamnya. Grup ini adalah wujud dari Imajinarium itu sendiri, sebagai ruang kami berimajinasi lalu kami wujudkan ke dalam karya-karya kami entah dalam konteks musikal maupun non-musikal.

Seni adalah wujud kebebasan, maka dari itu Imajinarium adalah band bergenre Art Rock, jawaban singkat kami tanpa harus menjelaskan panjang lebar. Harapannya agar kami terus berjiwa bebas sampai esok dimasa depan, dan untuk membebaskan kami dalam karya-karya selanjutnya, agar terus bisa mengakses segala aspek-aspek musikal yang tak terbatas dan mampu diterapkan pada karya-karya kami.