breaking news New

Profil dan Sejarah Kota Batu, Dikenal Sebagai Tempat Peristirahatan Keluarga Kerajaan

Profil dan Sejarah Kota Batu, Dikenal Sebagai Tempat Peristirahatan Keluarga Kerajaan Foto Kantor Pos dan Telegraf Pembantu di Batu, Jawa Timur yang diambil tahun 1930(Leiden University

SansRadio - Jakarta, Kota Batu merupakan salah satu dari 9 kota di Jawa Timur. Luas wilayahnya mencapai 199,09 km2, yang terdiri dari 3 kecamatan, yaitu Kecamatan Batu, Kecamatan Junrejo dan Kecamatan Bumiaji.
Ketiga kecamatan tersebut terbagi menjadi 20 desa dan 4 kelurahan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2021, jumlah penduduk Kota Batu sekitar 214.653 jiwa. Wilayah Kota Batu bagian utara berbatasan dengan Kabupaten Mojokerto dan Kabupaten Pasuruan. Sementara bagian barat, selatan dan timur berbatasan dengan Kabupaten Malang.

Kota Batu berada di dataran tinggi dengan ketinggian 700 sampai 1.700 meter di atas permukaan laut. Tak heran, suhu udara di sana cenderung dingin.

Ada 3 gunung di Kota Batu yang telah dikenal oleh masyarakat. Yaitu Gunung Panderman, Gunung Arjuna, dan Gunung Welirang.

Sebagai Tempat Peristirahatan Keluarga Raja

Dikutip dari batukota.go.id, sejak abad ke-10, wilayah Batu dan sekitarnya telah dikenal sebagai tempat peristirahatan bagi kalangan keluarga kerajaan. Batu dipilih karena masuk kawasan pegunungan dengan udara yang sejuk dan memiliki keindahan pemandangan alam khas daerah pegunungan. Kala itu saat Raja Sindok memimpin , seorang petinggi Kerajaan bernama Mpu Supo diperintah Sang Raja untuk membangun tempat peristirahatan keluarga kerajaan di pegunungan yang di dekatnya terdapat mata air.

Dengan upaya yang keras, akhirnya Mpu Supo menemukan suatu kawasan yang sekarang lebih dikenal sebagai kawasan Wisata Songgoriti. Atas persetujuan Sang Raja, Mpu Supo yang konon kabarnya juga sakti mandraguna itu mulai membangun kawasan Songgoriti sebagai tempat peristirahatan keluarga kerajaan. Di lokasi tersebut juga dibangun sebuah candi yang diberi nama Candi Supo. Seperti permintaan Sang Raja, tempat peristirahatan itu dilengkapi dengan sumber mata air yang sejuk.

Mata air dingin tersebut sering digunakan mencuci keris-keris yang bertuah sebagai benda pusaka dari Kerajaan Sendok. Karena sering digunakan untuk mencuci benda-benda kerajaan yang bertuah dan mempunyai kekuatan supranatural yang maha dasyat, maka sumber mata air yang semula terasa dingin dan sejuk akhirnya berubah menjadi sumber air panas. Sumber air panas itu pun sampai saat ini menjadi sumber abadi di kawasan Wisata Songgoriti.

Asal-usul Nama Batu

Sampai saat ini belum diketahui kepastiannya tentang kapan nama “Batu” mulai disebut untuk menamai kawasan peristirahatan tersebut. Namun dari cerita tutur masayarakat sekitar, sebuta Batu berasal dari seorang ulama pengikut Pangeran Diponegoro. Ia bernama Abu Ghonaim atau dikenal dengan nama Kyai Gubuk Angin. Dikutip darii buku Asal-usul Kota-kota di Indonesia Tempo Doeloe yang ditulis Zaenuddin HM, Sang Kyai berasal dari Jawa Tengah. Ia meninggalkan tanah kelahirannya dan pindah ke kaki Gunung Panderman untuk menghindari pengejaran serdadu Belanda.

Oleh masyarakat setempat, Sang Kyai akrab dipanggil Mbah Wastu. Ia membaur dengan masyarakat sekitar dan memulai kehidupan baru. Ia juga menyampaikan ajaran yang diperoleh selama mengikuti Pangeran Diponegoro. Akhirnya banyak warga yang berdatangan dan menetap untuk menuntut ilmu serta belajar agama ke Mbah Wastu. Kultur Jawa sering memperpendek dan mempersingkat mengenai sebutan nama seseorang yang dirasa terlalu panjang.

Penyingkatan penyebutannya dilakukan agar lebih cepat bila jika memanggil seseorang. Hal tersebut juga dilajukan saat memanggil Mbah Wastu. Lambat laun sebutan Mbah Wastu dipanggil Mbah Tu menjadi Mbatu atau Batu yang kemudian digunakan untuk nama sebuah kota dingin di Jawa Timur.

Swiss Kecil di Pulau Jawa

Pada awal abad ke-19, Kota Batu sudahberkembang dan menjadi aerah tujuan wisata, khususnya orang-orang Belanda. Mereka membangun tempat peristirahatan bahkan bermukim di wilayah Batu. Hingga saat ini masih banyak ditemukan situs dan bangunan peninggalan pemerintahan Hindia Belanda. Begitu kagumnya Belanda pada Kota Batu hingga mereka mensejajarkan Kota Batu dengan sebuah negara di Eropa yakni Switzerland dan memberikan predikat sebagai De Klein Switzerland atau "Swis Kecil di Pulau Jawa". Keindahan panorama di Kota Batu bahkan memikat The Father Foundation of Indonesia. Setelah perang kemerdekaan, Bung Karno dan Bung Hatta berkunjung dan beristirahat di kawasan Selecta, Batu. Ada beberapa tempat wisata di Batu seperti wisata gua di Cangar dan Tlekung, air terjun Coban Rais dan Coban Talun, Songgoriti dan Selecta, Kusuma Agrowisata, Taman Hutan Rakyat R Soerjo dan Gunung Panderman.


sumber : kompas.com