SansRadio - Jakarta, Saat ini masih ramai ga sih yang pusing kuliah atau pusing kerja, ngeluhnya “ah mau nikah aja! Pusing hidup gini terus”? padahal menikah itu bukan menghilangkan beban hidup ya, tapi sekedar mengganti bahkan menambah tanggung jawab baru haha. Apa ternyata memang keluhan itu udah mulai jarang bahkan gaada lagi karena adanya normalisasi seks di luar nikah?
Tulisan Ini berangkat dari sekedar pikiran lewat di sela aktifitas yang ternyata kurang ajar, lewat tapi numpang duduk. Jadi saya coba menghubungkan satu hal dengan hal lainnya secara pandangan atau referensi yang aku pahami. Tentunya belum tentu benar, saya yakin kalian memiliki pendapat yang mungkin lebih baik dan benar dibandingkan saya (mungkin).
Mari kita mulai dari membahas konsep nikah. Di luar dari benar dan salahnya pengertian konsep menikah di luar sana, ini merupakan pengertian menurut saya pribadi ya. Tentunya dengan referensi literasi yang pernah saya konsumsi. Menikah itu adalah hubungan antar manusia yang membentuk suatu persoalan baru, yang mana persoalan itu perlu dipecahkan dengan landasan tanggung jawab.
Untuk beberapa agama, menganggap menikah adalah cara untuk menghindari zina. Zina mungkin dapat diartikan sebuah kegiatan seksual yang dilakukan bukan pada waktu dan statusnya. Namun, saya rasa sudah jadi sifat dasar manusia, penasaran dengan suatu hal yang dilarang, betul ga?
Sex adalah kebutuhan biologis setiap manusia. Seperti makan, minum, tidur, dan buang air besar/kecil. Di saat manusia butuh makan ia akan merasa lapar, saat butuh minum ia akan merasa haus, saat merasa tubuh penuh ia akan buang air besar/kecil, saat lelah ia akan merasa kantuk dan akhirnya tidur. Dan saat merasa birahi memuncak, ia akan mengeluarkannya sesuai hasrat dan kebiasaannya.
Kita manusia memiliki akal untuk menyerap segala norma serta etika yang ada. Apa yang bisa, boleh dan tata cara untuk makan atau minum, dimana dan bagaimana cara saat ia harus buang air, dimana dan harus apa sebelum tidur. Hal ini pun berlaku dengan sex, dengan siapa ia bisa melakukannya. Norma dan etika pun tidak luput dari nilai-nilai yang melekat atas aktivitasnya.
Saya sangat yakin kalian sudah sangat pintar dengan bahasan kebutuhan manusia ini, tapi nyatanya sex, adalah hal yang sensitif serta banyak tindakan menyangkal tapi seru untuk dibahas.
Coba saya buat gambaran tanya jawab mengenai nikah dan aktifitas ranjang ini, mungkin bisa lebih untuk kalian cermati pembahasannya dengan gambaran kasus yang umum menjadi opini kalangan anak muda yang open minded (katanya).
“Bro, menikah bukan mengenai sex doang kali!” yaiya, tapi secara nyantai dan permukaan kalo udah ngomongin nikah salah satu yang dibicarain apa? Sex dong. Menikah emang bukan mengenai sex doang, tapi sex menjadi salah satu bagian penting dalam menikah.
Dan pada dewasa ini, saya merasa banyak sekali pernyataan baik yang ditangkap tidak semestinya. Seperti “my body, my rule”. Kita dipentokan dengan pilihan otoritas diri serta hak setiap orang. “ya kenapa kalo aku having sex sebelum nikah? Aku juga mau, pasangan aku juga mau” iya-iya itu pilihan kamu kok. Aku juga ga maksud menyerang, aku hanya sekedar membagi apa yang dipikiran, mungkin hanya sekedar konsep.
Tapi, ada satu pertanyaan saya, apa kita sudah mencoba memahami satu konsep tanggung jawab? Tanggung jawab memiliki bentuk yang beragam pada akhirnya, sesuai dengan apa yang kita pahami serta peran apa yang kita miliki. Secara sadar atau tidak sadar, menikah adalah suatu ikatan untuk kita memilik tanggung jawab baru dari apa yang kita lakukan dalam suatu hubungan. Jadi kalo kita
ngesex dengan pasangan tanpa ikatan pernikahan, apa kita yakin sudah bertanggung jawab dengan apa yang kita lakukan?
“bro, gua pake kondom kok,udah gitu ngeluarinnya di luar lagi. kita berdua bersih dan sehat, jadi ga akan hamil atau ada penularan penyakit”. Oh oke, jadi tanggung jawab menurut anda mungkin hanya sebatas gaada yang sakit dan hamil. Mengenai perasaan sampai kebiasaan yang tercipta setelah aktivitas sex itu masuk tanggung jawab bukan? Karena sebenarnya, SEX memiliki kepanjangan sacred energy
exchange atau dalam bahasa Indonesia memiliki arti pertukaran energi suci. Yang mana energi merupakan suatu hal yang dipupuk dari pengalaman, pola pikir, bahkan trauma. Suatu hal yang perlu kita sadari, dari adanya pertukaran, akan menghasilkan suatu hal yang baru.
“ah itu mah pilihan kami berdua aja” ya emang pilihan masing-masing kita dalam berpasangan, kan saya cuma bilang ternyata sex itu suatu kebutuhan biologis manusia yang ada landasan nilai serta normanya. Nilai dan norma sangat dekat dengan perasaan tiap individu yang diyakini secara massal dengan batas teritori tertentu.
“ah ga open minded banget sih lu Bro” karena saya lagi belajar open minded, jadi saya coba memahami suatu tindakan dengan sebab dan akibatnya.
“yaelah kan sex bukan hal tabu bro, jangan kolot deh” menormalkan sex sebelum nikah, dengan menjauhi kata kolot, jadi seperti ada bagian sesat pikir yah. sepemahaman saya konsep tabu merupakan hasil kontruksi masyarakat untuk menjaga generasi seterusnya agar dapat berjalan sesuai yang dianggap benar, dengan menjaga nilai-nilai yang ada, tanpa harus berpikir jauh mengenai sebab dan akibat. Jadi
kalo kita tidak mau memikirkan sebab dan akibat secara jelas. Menggunakan kata pamungkas “jangan kolot” seperti mencoba membuat ketabuan yang baru, ya?
Seru kan kalo sex ini dibahas dengan menggabungkan bagian satu dan bagian lainnya. Karena sex itu pembahasan sensitif yang dianggap beberapa orang menjijikan, tapi banyak orang ingin tau atau melakukan. Uhuy!
Ini semua hasil opini saya aja sih, boleh disimak dan disetujui. Kalo ga setuju ya gapapa kok. Sependapat atau ngganya opini saya dan anda, ya santai aja. Mungkin kapan waktunya kita bisa duduk bersama dan berbagi cerita di Homart Cerita.
Jadi, kalo bisa ngesex, menikah untuk apa?