breaking news New

Bisa ngese... kapan aja, jadi menikah untuk Apa?

Bisa ngese... kapan aja, jadi menikah untuk Apa? Foto By : nytimes.com/ Literasi Tulisan Rahadyan Prabhasworo

SansRadio - Jakarta, Saat ini masih ramai ga sih yang pusing kuliah atau pusing kerja, ngeluhnya “ah mau nikah aja!  Pusing hidup gini terus”? padahal menikah itu bukan menghilangkan beban hidup ya, tapi sekedar  mengganti bahkan menambah tanggung jawab baru haha. Apa ternyata memang keluhan itu udah mulai  jarang bahkan gaada lagi karena adanya normalisasi seks di luar nikah? 

Tulisan Ini berangkat dari sekedar pikiran lewat di sela aktifitas yang ternyata kurang ajar, lewat  tapi numpang duduk. Jadi saya coba menghubungkan satu hal dengan hal lainnya secara pandangan  atau referensi yang aku pahami. Tentunya belum tentu benar, saya yakin kalian memiliki pendapat yang  mungkin lebih baik dan benar dibandingkan saya (mungkin).  

Mari kita mulai dari membahas konsep nikah. Di luar dari benar dan salahnya pengertian konsep  menikah di luar sana, ini merupakan pengertian menurut saya pribadi ya. Tentunya dengan referensi  literasi yang pernah saya konsumsi. Menikah itu adalah hubungan antar manusia yang membentuk  suatu persoalan baru, yang mana persoalan itu perlu dipecahkan dengan landasan tanggung jawab.  

Untuk beberapa agama, menganggap menikah adalah cara untuk menghindari zina. Zina  mungkin dapat diartikan sebuah kegiatan seksual yang dilakukan bukan pada waktu dan statusnya.  Namun, saya rasa sudah jadi sifat dasar manusia, penasaran dengan suatu hal yang dilarang, betul ga?  

Sex adalah kebutuhan biologis setiap manusia. Seperti makan, minum, tidur, dan buang air  besar/kecil. Di saat manusia butuh makan ia akan merasa lapar, saat butuh minum ia akan merasa haus,  saat merasa tubuh penuh ia akan buang air besar/kecil, saat lelah ia akan merasa kantuk dan akhirnya  tidur. Dan saat merasa birahi memuncak, ia akan mengeluarkannya sesuai hasrat dan kebiasaannya.  

Kita manusia memiliki akal untuk menyerap segala norma serta etika yang ada. Apa yang bisa,  boleh dan tata cara untuk makan atau minum, dimana dan bagaimana cara saat ia harus buang air,  dimana dan harus apa sebelum tidur. Hal ini pun berlaku dengan sex, dengan siapa ia bisa  melakukannya. Norma dan etika pun tidak luput dari nilai-nilai yang melekat atas aktivitasnya. 

Saya sangat yakin kalian sudah sangat pintar dengan bahasan kebutuhan manusia ini, tapi  nyatanya sex, adalah hal yang sensitif serta banyak tindakan menyangkal tapi seru untuk dibahas. 

Coba saya buat gambaran tanya jawab mengenai nikah dan aktifitas ranjang ini, mungkin bisa  lebih untuk kalian cermati pembahasannya dengan gambaran kasus yang umum menjadi opini kalangan  anak muda yang open minded (katanya). 

“Bro, menikah bukan mengenai sex doang kali!” yaiya, tapi secara nyantai dan permukaan kalo  udah ngomongin nikah salah satu yang dibicarain apa? Sex dong. Menikah emang bukan mengenai sex  doang, tapi sex menjadi salah satu bagian penting dalam menikah.  

Dan pada dewasa ini, saya merasa banyak sekali pernyataan baik yang ditangkap tidak  semestinya. Seperti “my body, my rule”. Kita dipentokan dengan pilihan otoritas diri serta hak setiap  orang. “ya kenapa kalo aku having sex sebelum nikah? Aku juga mau, pasangan aku juga mau” iya-iya itu  pilihan kamu kok. Aku juga ga maksud menyerang, aku hanya sekedar membagi apa yang dipikiran,  mungkin hanya sekedar konsep.

Tapi, ada satu pertanyaan saya, apa kita sudah mencoba memahami satu konsep tanggung  jawab? Tanggung jawab memiliki bentuk yang beragam pada akhirnya, sesuai dengan apa yang kita  pahami serta peran apa yang kita miliki. Secara sadar atau tidak sadar, menikah adalah suatu ikatan  untuk kita memilik tanggung jawab baru dari apa yang kita lakukan dalam suatu hubungan. Jadi kalo kita  

ngesex dengan pasangan tanpa ikatan pernikahan, apa kita yakin sudah bertanggung jawab dengan apa  yang kita lakukan?  

“bro, gua pake kondom kok,udah gitu ngeluarinnya di luar lagi. kita berdua bersih dan sehat, jadi  ga akan hamil atau ada penularan penyakit”. Oh oke, jadi tanggung jawab menurut anda mungkin hanya  sebatas gaada yang sakit dan hamil. Mengenai perasaan sampai kebiasaan yang tercipta setelah aktivitas sex itu masuk tanggung jawab bukan? Karena sebenarnya, SEX memiliki kepanjangan sacred energy  

exchange atau dalam bahasa Indonesia memiliki arti pertukaran energi suci. Yang mana energi  merupakan suatu hal yang dipupuk dari pengalaman, pola pikir, bahkan trauma. Suatu hal yang perlu  kita sadari, dari adanya pertukaran, akan menghasilkan suatu hal yang baru. 

“ah itu mah pilihan kami berdua aja” ya emang pilihan masing-masing kita dalam berpasangan,  kan saya cuma bilang ternyata sex itu suatu kebutuhan biologis manusia yang ada landasan nilai serta  normanya. Nilai dan norma sangat dekat dengan perasaan tiap individu yang diyakini secara massal  dengan batas teritori tertentu. 

“ah ga open minded banget sih lu Bro” karena saya lagi belajar open minded, jadi saya coba  memahami suatu tindakan dengan sebab dan akibatnya. 

“yaelah kan sex bukan hal tabu bro, jangan kolot deh” menormalkan sex sebelum nikah, dengan  menjauhi kata kolot, jadi seperti ada bagian sesat pikir yah. sepemahaman saya konsep tabu merupakan  hasil kontruksi masyarakat untuk menjaga generasi seterusnya agar dapat berjalan sesuai yang dianggap  benar, dengan menjaga nilai-nilai yang ada, tanpa harus berpikir jauh mengenai sebab dan akibat. Jadi  

kalo kita tidak mau memikirkan sebab dan akibat secara jelas. Menggunakan kata pamungkas “jangan  kolot” seperti mencoba membuat ketabuan yang baru, ya? 

Seru kan kalo sex ini dibahas dengan menggabungkan bagian satu dan bagian lainnya. Karena sex itu pembahasan sensitif yang dianggap beberapa orang menjijikan, tapi banyak orang ingin tau atau melakukan. Uhuy! 

Ini semua hasil opini saya aja sih, boleh disimak dan disetujui. Kalo ga setuju ya gapapa kok. Sependapat atau ngganya opini saya dan anda, ya santai aja. Mungkin kapan waktunya kita bisa duduk  bersama dan berbagi cerita di Homart Cerita. 

Jadi, kalo bisa ngesex, menikah untuk apa?

Tulisan Rahadyan Prabhasworo